Pandeglang (10/04)
“Kilasan Sejarah Antara Anyer dan Panarukan”
PANDEGLANG, Anda pernah mendengar Nama Daendels..??
Ya, tokoh yang sering kita dengar ini memang penuh kontroversi.
Herman Willem Daendels atau di Indonesia lebih dikenal dengan nama
Daendels, adalah nama seorang Gubernur Jenderal Belanda yang pernah
memerintah di bumi kita tercinta ini antara tahun 1808 dan 1811.
Berdasarkan buku-buku sejarah, Gubernur Jenderal Daendels dikenal
sebagai seorang diktator yang sangat kejam, tidak berperikemanusiaan,
dan selalu menindas rakyat demi keuntungan pemerintah Kolonial Belanda
dan pribadinya.
Daendels menerima dua tugas yang diberikan oleh Louis Napoleon, yang
menjadi raja di negeri Belanda pada saat itu. Kedua tugas itu adalah:
mempertahankan Pulau Jawa agar tidak jatuh ke tangan Inggris dan
memperbaiki sistem administrasi negara di Jawa.
Dan untuk melakukan tugas itu, dirinya berusaha membangun Jalan
antara Anyer sampai dengan Panarukan. Menurut beberapa sumber sejarah,
Jalur jalan ini melalui garis pantai dari Batavia menuju Carita,
Caringin, menembus Gunung Pulosari, Jiput, Menes, Pandeglang, Lebak
hingga Jasinga (Bogor).
Sebuah tulisan yang dibuat oleh DN. Halwany, dapat menjadi referensi kita untuk mengenal tokoh ini. Berikut ini tulisan tersebut, yang saya ambil dari Blog-nya PERPUSTAKAAN HALWANY
—————————————————————-
Misteri Perjalanan Dendles Di Banten

Pembangunan jalan Daendels dari Anyer (Banten) sampai Panarukan (Jawa
Timur) sejauh 1000 km pada tahun 1809 – 1810 yang bertujuan untuk
mempercepat tibanya surat-surat yang dikirim antar Anyer hingga
Panarukan atau sebagai jalan pos, namun jalan-jalan itu dalam
perkembangan selanjutnya banyak dipengaruhi kehidupan masyarakat
disekitarnya dan telah berubah fungsinya antara lain mejadi jalan
ekonomi atau jalan umum dan kini sudah banyak bangunan disekitarnya.
Rute jalan Daendels di Kabupaten Serang sampai saat ini sebetulnya
masih dihantui oleh kesimpangsiuran informasi. Karena yang beredar di
masyarakat ada dua pendapat ada yang berpendapat bahwa jalan Daendels
melewati Kabupaten Lebak, namun ada juga yang menyatakan hanya melewati
Kabupaten Serang saja. Memang, menelusuri jalan Daedels dari titik km
nol di Anyer hingga 1000 km di Panarukan, orang sering bingung untuk
menentukan rute yang benar apakah melalui Serang ataukah melalui Lebak,
beberapa masyarakat yang dihubungi, hanya mengenal jalan Daendels dari
Anyer sampai Serang. Tidak itu saja di Banten juga banyak jalan-jalan
yang bercabang dan masyarakat setempat menamakannya jalan Daendels.
Kesimpangsiuran informasi itu menurut Halwany Michrob, wajar-wajar
saja sebab pembuatan jalan Deandels saat itu melakukannya dalam dua
tahapan, tahap pertama merupakan pembuatan jalan untuk membuka poros
Batavia – Banten pada tahun 1808, pada masa itu Daendels memfokuskan
kegiatannya pada pembangunan dua pelabuhan di utara (Merak) dan di
selatan (Ujung Kulon). Jalur ini melalui garis pantai dari Batavia
menuju Carita, Caringin, menembus Gunung Pulosari, Jiput, Menes,
Pandeglang, Lebak hingga Jasinga (Bogor). Tahap kedua dimulai tahun
1809, Dari Anyer melalui Pandeglang jalan bercabang dua menuju Serang
(utara) dan Lebak (selatan). Dari Serang, rute selanjutnya Ke Tangerang,
Jakarta, Bogor, Puncak, Cianjur, Bandung, Sumedang, Cirebon hingga
Panarukan, sepanjang pantai utara Pulau Jawa. Jalan inilah jalan yang di
sebut jalan utama atau jalan protokol, tetapi itu tidak berarti bahwa
tidak ada cabang-cabang jalan lainnya yang dilewati oleh Daendels.
Di daerah tertentu, banyak rute khusus yang sengaja di bangun oleh
Daendels pada masa itu terutama daerah pusat Kabupaten karena untuk
mempermudah transportasi pengangkutan rempah-rempah keluar daerah
tersebut. Banten merupakan tempat yang paling banyak memiliki
cabang-cabang Jalan Deandels sebab Banten cukup banyak menghasilkan
rempah-rempah. Anyer dijadikan titik km nol karena kota ini sudah di
pola Daendels untuk mempermudahkan pengangkutan hasil bumi dari Banten
menuju dua pelabuhan yaitu pelabuhan Merak dan Pelabuhan Ujung Kulon.
Banten sendiri sudah dilokalisasi dalam segi hasil bumi oleh Daendels
karena Banten Subur dan Kaya akan hasil buminya terutama rempah-rempah.
Hingga saat ini, sebagian besar jalan Daendels masih terpakai bahkan
yang lama sengaja diperbaharui supaya dapat digunakan. Jalan Daendels
yang tidak dapat digunakan lagi adalah daerah Pontang dan Bayah, karena
hancur dan tidak diperbaiki kembali. Sementara itu Daendels sempat
memerintahkan pembuatan jalan di selatan Pulau Jawa, rutenya di mulai
dari sebelah barat Jawa yakni; Bayah menuju Pelabuhan Ratu, terus ke
selatan ke daerah Sukabumi, Cimanuk dan seterusnya hingga ke
Pangandaran, Purwokerto dan Yoyakarta. Jalan Daendels yang lebih di
kenal oleh masyarkat adalah jalan bagian utara Jawa, ini disebabkan
karena jalan di utara melalui rute yang berhadapan langsung dengan rute
Batavia, sedangkan jalan bagian selatan Jawa selain kondisi jalannya
rusak banyak juga yang terputus seperti jalan Bayah sampai Citorek.
Ada beberapa versi mengenai sejarah pembuatan jalan ini, ada yang
mengatakan bahwa Daendels membuat jalan Anyer – Panarukan ini karena
ingin mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris, sehingga Pulau
Jawa perlu dibangun jalan guna menghubungkan suatu daerah ke daerah lain
agar dapat mempercepat kabar berita dan alur transportasi. Secara
kronologis, pada tahun 1808 datanglah
Herman Willem Daendels
dari Belanda ke Banten, waktu ia datang ke Indonesia negaranya tengah di
jajah oleh Perancis. Sebagai murid yang disayangi Napoleon, akhirnya
Daendels dikirim ke Indonesia untuk menggantikan Gubernur Jendral dari
Belanda yang ada di Indonesia oleh Napoleon Bonaparte (Dr. H.J. de
Graaf; 363-370, 1949). Dengan segala upaya akhirnya Daendels mendapatkan
bantuan dari rakyat Banten berupa rempah-rempah untuk dikirim ke
Perancis dan Belanda sebagai upeti,
jadi tidak mengherankan jika ia
membuat kerja rodi dan tanam paksa (verplichte diensten) karena jika
tidak, ia tidak bisa memberikan upeti pada kedua negara itu.
Pada tahun 1808-1809 Daendles mulai pembuatan jalan dengan rute
Batavia-Banten tahap pertama, pada saat itu rakyat masih mau menghimpun
kekuatan untuk melaksanakan perintah paksa Daendles, namun setelah
terjangitnya penyakit malaria dan banyak yang tewas, maka rakyat
menghentikan bantuannya. Karena banyaknya korban pada pembuatan jalan
Batavia-Banten masih simpang siur, menurut beberapa sejarahwan
Indonesia, yang meninggal sekitar 15.000 orang dan banyak yang meningal
tampa dikuburkan secara layak. Walaupun demikian Daendels semakin keras
menghadapi rakyat, ia tidak segan-segan memerintahkan tentaranya
menembak mati rakyat yang lalai atau tidak mau bekerja dalam pembuatan
jalan apapun alasannya.
Sementara itu ada yang beranggapan jalan Daendels dibuat untuk jalur
pos atau Jalan Pos Raya (Grote Postweq), namun Halwany beranggapan bahwa
jalan Daendels sebagai siasat untuk memperlancar jalur ekonomi, politik
dan pemerintahan. Jadi yang dikatakan jalan pos disini maksudnya adalah
sebagai sentral untuk pemerintahan agar sistim birokrasi pola pikirnya
sampai kebawah.
Keadaan jalan Daendels saat ini dari titik nol km yang bertempat di
Anyer Kidul, Desa Cikoneng menuju Serang maupun Pandeglang dibandingkan
dengan situasi dan kondisi 180 tahun yang lalu, memang jauh berbeda baik
cara hidup masyarakat setempat ataupun alam sekitarnya. Pada saat tanam
paksa pembuatan jalan hanya hutan belantara dengan kehidupan binatang
yang ada dan di dukung oleh keadaan pantai yang indah menawan belum
terjamah manusia. Puluhan orang pribumi atas perintah paksa menerobos
hutan dan jadilah jalan tembus untuk mempernudah arus angutan
hasil-hasil bumi. Menurut ceritera penduduk setempat, pada pembuatan
jalan Daendles (kerja rodi) ini setiap jarak 25 meter di tanami pohon
asem di pinggir badan jalan, itu dilakukan agar badan jalan yang telah
di buat tetap terpelihara adan terjaga.
Menginjak tahun 1950-an, sepanjang jalan pantai Selat Sunda ini masih
sunyi, karena tidak seminggu sekali pun kendaraan roda empat melintas
ke tempat ini kecuali kereta api yang melintas jurusan Rangkasbitung –
Anyer itupun sehari sekali pulang-pergi mengangkut para penumpang, tapi
sejak tahun 1970 di Anyer tak ada lagi ada kereta api yang melintas dan
yang ada tinggal sebuah stasiun tua yang sunyi dan sepi. Beberapa
masyarakat berpendapat waktu tahun 1972, jangankan malam hari pada siang
hari saja masih sering menemukan rombongan binatang seperti; monyet,
kancil, manjangan, kelinci maupun sesekali terlihat macan. Sekarang
jalan itu telah ramai di lalui kendaraan bermotor, tak kelihatan lagi
gerobak yang biasa lewat mengangut singkong ataupun pisang malah yang
banyak terlihat tembok-tembok bangunan milik penduduk berjejer bahkan
vila dan hotel pun telah menutupi hampir semua kawasan pantai Selat
Sunda itu. Tidak hanya itu saja pabrik-pabrik pun telah memadati kawasan
ini termasuk tambak udang, sekarang tidak ada lagi kelihatatan binatang
liar yang bebas bergelantungan di pohon-pohon maupun bergerombol di
pinggiran jalan. Binatang ini telah pergi entah kemana. ***
Cerita Rakyat Banten “Gubernur Jendral Herman Willem Dendles”

Herman Willem Daendels atau di Indonesia lebih dikenal dengan nama
Daendels, adalah nama seorang Gubernur Jenderal Belanda yang pernah
memerintah di bumi kita tercinta ini antara tahun 1808 dan 1811.
Berdasarkan buku-buku sejarah, Gubernur Jenderal Daendels dikenal
sebagai seorang diktator yang sangat kejam, tidak berperikemanusiaan,
dan selalu menindas rakyat demi keuntungan pemerintah Kolonial Belanda
dan pribadinya. Sebelum meninggalkan negeri Belanda menuju
Jawa, Daendels menerima dua tugas yang diberikan oleh Louis Napoleon,
yang menjadi raja di negeri Belanda pada saat itu. Kedua tugas itu
adalah: mempertahankan Pulau Jawa agar tidak jatuh ke tangan Inggris dan
memperbaiki sistem administrasi negara di Jawa.
Kedua tugas ini diberikan kepadanya mengingat bahwa pada saat itu
negeri Belanda berada di bawah kekuasaan Napoleon Bonaparte, dan Inggris
adalah salah satu negara yang belum bisa ditaklukkan Prancis yang saat
itu. (Eymeret: 1973: 29). Pada tanggal 28 Januari 1807 Daendels menerima
tugas untuk menjadi Gubernur Jenderal di Hindia Belanda langsung dari
Louis Napoleon atas perintah dari Napoleon Bonaparte. Persiapan
keberangkatannya pun dilakukan. Pada tanggal 9 Februari 1807, Louis
Napoleon menandatangani instruksi yang harus dilakukan oleh Daendels.
Instruksi itu terdiri atas 37 pasal. Pada bulan Maret, Daendels
berangkat secara diam-diam, agar tidak diketahui pihak Inggris, melalui
Paris, kemudian ke Lisabon dengan menaiki kapal Amerika dan mengubah
namanya menjadi Van Vlierden. Dari Lisabon Daendels berlayar menuju
Kepulauan Kanari selanjutnya menuju pulau Jawa. (Paulus: 1917: 554).
Pada tanggal 1 Januari 1808, setelah menempuh perjalanan selama 10
bulan, Daendels mendarat di Anyer hanya dengan didampingi oleh seorang
ajudannya dan tanpa memiliki surat-surat kepercayaan. Dari Anyer dia
melalui jalan darat menuju ke Batavia untuk menemui gubernur jenderal
saat itu, yaitu Henricus Albertus Wiese (Stapel: 1940: 35). Tampaknya
Wiese telah menerima berita pengangkatan Daendels. Pada tanggal 14
Januari 1808 Wiese menyerahkan kekuasaannya kepada Daendels.
———————————————————-
Hubungan Daendels dengan Raja-Raja di Jawa Barat

Sebenarnya Daendels melakukan intervensi terhadap kekuasaan
kesultanan di Jawa, yakni: Kesultanan Banten, Cirebon (Kanoman dan
Kasepuhan), Yogyakarta dan Surakarta (
Vorstenlanden). Namun,
sesuai dengan tema seminar ini, hanya akan dibahas hubungan Daendels
dengan Kesultanan Banten dan Cirebon. Hubungan antara Daendels dan raja
Banten bermula dari rencana pembuatan pelabuhan dan jalan raya di Ujung
Kulon. Ribuan pekerja dikerahkan untuk membuat jalan dan pelabuhan itu.
Dalam pekerjaan ini terjadi banyak korban manusia baik yang berasal dari
kalangan pribumi maupun dari kalangan orang Eropa, karena tanahnya
banyak yang berupa rawa-rawa. Untuk melanjutkan proyek itu Daendels
meminta kepada Sultan Banten saat itu, untuk menyediakan tenaga baru
dari Banten. Sultan Banten menolak permintaan itu mengingat banyaknya
korban yang sakit dan mati karena penyakit. Daendels tidak bisa menerima
alasan tersebut, kemudian mengirimkan utusannya yang bernama Komandan
Du Puy untuk mendesak Sultan Banten agar bersedia mengirimkan rakyatnya.
Du Puy diserang dan dibunuh. Keadaan ini membuat Daendels marah,
sehingga ia memutuskan untuk menyerang Banten. Sultan Banten menyerah
dan diasingkan ke Ambon, sementara pemerintahan diserahkan kepada putra
mahkota (Murdiman: 1970:14). Kondisi di Cirebon berbeda sekali dengan
kondisi di Banten. Pada akhir abad ke 18, di kraton-kraton Cirebon cukup
kacau akibat konflik di dalam kraton. Sultan Sepuh yang memerintah dari
tahun 1781 dikabarkan sakit ingatan, sehingga tidak mampu untuk
menjalankan pemerintahan. Selanjutnya, untuk menjalankan
Sumber lain menyebutkan bahwa Daendels pergi ke Jawa melalui Cadix,
Tanger, Kepulauan Kanari, New York baru menuju ke Jawa dengan
menggunakan kapal Amerika (Graaf: 1949: hal. 363). pemerintahan di
kraton dilakukan oleh beberapa adipati. Ketika sultan wafat pada tahun
1787, ia digantikan oleh penggantinya yang kemudian pada tahun 1791
meninggal juga secara mendadak. Sementara itu putranya yang diharapkan
menggantikannya usianya masih sangat muda. Akibatnya, pemerintahan di
dalam kraton diserahkan kepada walinya hingga tahun 1799. Kondisi kraton
menjadi sangat kacau ketika putra Sultan yang dulu dibuang ke Maluku
melakukan pemberontakan. Ia ditangkap dan dibawa ke Batavia. Sementara
itu Sultan Kanoman meninggal tahun 1798. Namun, yang menggantikan
bukan putra mahkota, melainkan orang lain. Hal ini mengakibatkan
kekacauan yang mengakibatkan banyak orang Cina terbunuh. Akibat
kerusuhan ini putra mahkota Kanoman ditangkap dan dibawa ke Batavia
karena dianggap mendalangi kerusuhan itu. Ribuan rakyat protes ke
Batavia, tetapi bisa dihalau di Krawang. Akibat dari kejadian ini semua,
putra mahkota Kanoman dibuang ke Ambon. (Lubis, 2000: 45-47) Pada masa
Daendels menjadi gubernur jenderal. Oleh Daendels para penguasa kerajaan
tidak diijinkan menggunakan sebutan sultan lagi, melainkan menggunakan
sebutan pangeran. Menurut sumber sejarah, Kesultanan Banten mulai berada
di bawah kekuasaan pemerintah Hindia Belanda semenjak Sultan Banten
menandatangani perjanjian dengan Belanda yang dilakukan oleh Sultan
Safiuddin pada tanggal 28 Nopember 1808. Setelah penandatangan dan
pengucapan sumpah pada tanggal itu, istana Sorosowan yang juga dikenal
dengan istilah Benteng Intan dihancurkan belanda sebagai hukuman atas
meninggalnya pejabat tinggi negara dan pejabat rendah yang dibunuh oleh
abdi dalem Sultan.
—————————————–
Jatuhnya Kesultanan Banten berdasarkan arsip yang ada

Berdasarkan
ringkasan daftar keputusan Gubernur Jenderal Herman Willem
Daendels yang dibuat di Banten tanggal 22 Nopember 1808 terdapat dua hal
yang berkaitan dengan jatuhnya Kesultanan banten, yaitu:
Pertama, Berita Acara terbunuhnya Komandan Du Puy dan Letnan Kohl serta seorang Eropa dan tiga anggota militer pribumi dan
kedua
perintah untuk Raja Banten. Daendels menerima laporan terbunuhnya
Komandan Du Puy, Letnan Kohl, tiga orang Eropa dan tiga anggota militer
pribumi. Pada saat Du Puy dipanggil oleh utusan Sultan agar datang
menghadap ke Benteng Intan (Istana Sorosowan), Komandan Du Puy diserang
oleh adipati Pangeran Wargadiraja hingga meninggal. Sultan dianggap
mengetahui rencana pembunuhan itu dan tidak melakukan apa-apa, bahkan
membiarkan para penyerang merusak mayat Du Puy, kemudian dengan sangat
kejam menyeretnya menuju sungai dan menenggelamkannya. Kejadian ini juga
menimpa para anggota militer Eropa dan pribumi yang menyertai Du Puy ke
sana. Wakil pemerintah yang ditugaskan ikut menjaga Kraton yang bernama
Kapten Kohl, pada malam sebelum pembunuhan itu dibuat mabuk, sehingga
Sultan dianggap dengan bebas bisa membunuhnya esok harinya. Sultan tidak
melakukan tindakan pencegahan sedikitpun. Selain itu juga ada tuduhan
pemerintah Hindia Belanda kepada Sultan Banten yakni: adanya serangan
terhadap tiga orang serdadu Eropa yang dikirim ke teluk Anyer. Namun,
tidak semuanya berhasil dibunuh, karena sebagian bisa melarikan diri ke
seberang.
Selanjutnya Daendels memberikan instruksi bagi Raja Banten yang baru, untuk mengesahkan tata cara berikut upacara bagi
Prefect Banten, apabila dia tiba sebagai wakil pemerintahan umum Paduka Raja.
1. Tidak ada upacara yang dilakukan apabila pada kesempatan ini
Prefect tidak sedang diminta untuk menghadap raja;
2. Dalam kesempatan resmi tergantung pada kondisi,
Prefect
setelah menyampaikan kepada raja alasan pertemuan ini, oleh empat utusan
dikawal dan upacra dari pihak raja Banten akan diadakan sesuai
kebiasaan;
3.
Prefect setelah mendekati raja akan dilengkapi dengan
sebuah payung besar yang baik pada sisi dalam maupun luarnya dicat
kuning dan diberi warna pinggi emas dan batangnya lebar, dan selain itu
akan dicat biru muda dengan tombol emas, yang harus dipegang oleh
seorang pembantu sampai di rumah ketika dia harus diterima oleh raja
dengan seluruh ikat kepalanya.
4. Raja harus berdiri dari kursinya ketika
Prefect memasuki
istana dan harus menyambutnya ketika Prefect di sini menyampaikan
salamnya kepada raja, seperti halnya diadakan upacara secara cermat
ketika kembali terjadi dia duduk di sebelah kanan raja dan kemudian
disesuaikan dengan pemilihan.
5. Dalam peristiwa upacara ini bisa ditunjukan bahwa kepada raja ketika tampil di depan umum dan
Prefect kebetulan ada di sana, harus digandeng tangannya di bawah pengawasan
Prefectdan dipayungi.
6. Apabila raja menghampiri
Prefect, ketika memasuki benteng
Speelwijk atau di tempat lain di mana pejabat ini biasa tinggal,
dilepaskan tiga tembakan senapan, dan kepada
Prefect wajib menyambutnya, membawanya masuk namun para pejabat rendahan bisa menerimanya di depan atau di luar kompleks bangunan itu.
7. Juga para pejabat rendahan seperti halnya
Prefect baik yang berjalan kaki maupun berkereta dan berkuda bisa berangkat dan dinaiki bila mereka kebetulan berhalangan.
8. Apabila seorang
Prefect atau pejabat lain bertemu dengan
raja di tengah jalan, setiap orang akan berbagi jalan dan masing-masing
memberi salam, namun anggota militer bisa berdiri di depan raja.
9. Apabila
Prefect berjalan menghampiri raja, dia akan
berjalan di belakang korps prajurit jaga yang terdiri atas seorang
sersan, seorang kopral dan 12 orang prajurit biasa.
10. Pada semua upacara lain, sejauh dirasakan perlu oleh
Prefect, harus dihadiri pula oleh raja ketika upacara ini diadakan seperti yang ditetapkan dalam pasal 6.
11. Dengan kedatangan
Prefect di Banten, Prefect akan
menyampaikan kepada raja yang akan memberikan sambutan kedatangannya
sebelum dia sendiri menghadap raja.
12. Selain itu kepada
Prefect dan raja diberi wewenang untuk saling bertemu secara kekeluargaan tanpa upacara. Setelah itu
Prefect
dalam semua aspek akan memperhatikan kepentingan martabat negara yang
diwakilinya dan memperhatikan agar raja dan para bangsawannya baik dari
pihak penguasa Eropa maupun bangsanya sendiri dihormati martabatnya.
Pada tahun 1808-1809 Daendles mulai pembuatan jalan dengan rute
Batavia-Banten tahap pertama, pada saat itu rakyat masih mau menghimpun
kekuatan untuk melaksanakan perintah paksa Daendles, namun setelah
terjangitnya penyakit malaria dan banyak yang tewas, maka rakyat
menghentikan bantuannya. Karena banyaknya korban pada pembuatan jalan
Batavia-Banten masih simpang siur, menurut beberapa sejarahwan
Indonesia, yang meninggal sekitar 15.000 orang dan banyak yang meningal
tampa dikuburkan secara layak. Walaupun demikian Daendels semakin keras
menghadapi rakyat, ia tidak segan-segan memerintahkan tentaranya
menembak mati rakyat yang lalai atau tidak mau bekerja dalam pembuatan
jalan apapun alasannya. Sementara itu ada yang beranggapan jalan
Daendels dibuat untuk jalur pos atau Jalan Pos Raya (Grote Postweq),
namun Halwany beranggapan bahwa jalan Daendels sebagai siasat untuk
memperlancar jalur ekonomi, politik dan pemerintahan. Jadi yang
dikatakan jalan pos disini maksudnya adalah sebagai sentral untuk
pemerintahan agar sistim birokrasi pola pikirnya sampai kebawah.***